Info Festival Tesso Nilo

Di Pelalawan, Wisata Minat Khusus 65 views

Explore Riau, Pelalawan – Info Festival Tesso Nilo. Tesso Nilo adalah salah satu Taman Nasional yang ada di provinsi Riau, Indonesia. Akun instagram resmi @TessoNiloNationalPark telah mempublikasikan informasi tentang festival yang akan digelar bulan november tahun ini. Berikut ini berita selengkapnya!

Festival TNTN, Semangat Membangkitkan Budaya Lokal yang Hampir Punah

Festival Tesso Nilo 2017, di Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kabupaten Pelalawan akan resmi digelar pada tanggal 22-24 November 2017 mendatang. Festival perdana tersebut rencananya akan dihadiri oleh seluruh kepala balai taman nasional se-Indonesia, seluruh kepala balai konservasi sumber daya alam se-Indonesia serta pihak Kementerian Lingkungan Hidup.

Hal ini disampaikan Kepala Balai TNTN Supartono saat konfrensi pers di Pekanbaru, Senin (20/112017).
Dijelaskan Supartono, kegiatan tersebut berangkat dari keinginan mengangkat potensi yang ada di TNTN, bukan hanya potensi hutan tropis dan gajahnya, namun juga budaya lokal yang jarang diketahui.

“Saya ngobrol ke masyarakat, ternyata ada budaya masyarakat lokal yang hanya ada di Pelalawan dan hampir punah, seperti nyanyian panjang, bahkan nyanyian itu sudah diterapkan Kemenristekdikti sebagai warisan budaya tak benda, ini potensi luar biasa dan tidak ada yang mengangkat, yang bisa menyanyikan ini cuma tiga orang, nyanyian ini menceritakan tentang pembagian lahan pemukiman, garapan, cadangan dan untuk lindung, ini konsepnya luar biasa,” kata Supartono.

Festival Tesso Nilo

Menurut dia, nyanyian panjang ini nantinya akan dilombakan dalam festival itu, namun dalam tataran anak muda, hal ini dilakukan agar dapat menggungah kembali masyarakat asli di sana, bahwa mereka punya budaya seperti ini.

Selain itu, akan diadakan juga lomba Pencak Silat Pangean, pembuatan gelanggang pencak silat tradisional itu sudah dua hari yang lalu dibuat dengan menggunakan ritual-ritual tertentu.

“Akan diadakan juga lomba masakan tradisional, dahulu ternyata masyarakat Melayu Petalangan tidak mengenal minyak kelapa maupun sawit, namun memakai minyak seminai dan suntai, konon katanya enak, tetapi anak-anak muda di sana tidak mengenalnya lagi, cuma pohonnya banyak, bisa saja nanti minyak itu akan dibikin menjadi souvenir,” tambah Supartono.

Lomba-lomba yang lain adalah lomba fotografi dan lomba mewarnai untuk anak-anak TK, saat ini untuk lomba mewarnai sudah 200 orang yang sudah mendaftar.

Sejak Februari 2017 hingga sekarang, Balai TNTN terus berbenah seiring dengan trend masyarakat Riau yang mulai mengunjungi kawasan-kawasan wisata lokal daripada berwisata ke Sumatera Barat.

“Kita ada paket wisata Mahout Wanna Be, bagaimana kita menyampaikan kepada pengunjung tentang kehidupan mahout dalam menangani gajah, dari pagi hingga sore, dan sore hingga pagi hari, lalu pengamatan perilaku gajah, paket ini belum ada di Indonesia. Kita bangun trek semen, jembatan, fasilitas untuk selfie dan segala macam, kita bangun nuansa-nuansa melayu, seperti rumah melayu yang hanya menggunakan lampu teplok, kita ingin membangkitkan menumbai yaitu memanen madu sialang, mulai dari proses awal hinga akhir, inilah semangat awalnya hingga timbul Festival Tesso Nilo, jika Pemda mendukung ini dan menjadikan event kabupaten, saya siap menjadikan ini sebagai event taman nasional.” jelas Supartono.

Balai TNTN sendiri diresmikan pada tahun 2004 dan mempunyai luas sebesar 38.576 hektare, rencananya pada tahun depan akan dijadikan balai konservasi gajah, saat ini Balai TNTN memiliki tujuh gajah jinak dan 100-120 ekor gajah liar. ***

“Festival TNTN” Siap Angkat Kembali Kearifan Lokal Masyarakat Sekitar

Balai Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau akan menggelar “Festival Tesso Nilo” pada 22-24 November 2017, untuk mengangkat kembali kearifan lokal masyarakat disekitar hutan yang terancam punah sebagai potensi pariwisata baru.

“Ada dua tema yang diangkat pada festival ini, pertama adalah konservasi dan kedua adalah budaya,” kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Supartono di Pekanbaru, Senin.

Ia mengatakan ini adalah pertama kalinya pihaknya menggelar festival di TNTN. Panitia menargetkan acara tersebut bisa dihadiri sedikitnya 200 orang peserta.

Festival Tesso Nilo akan menampilkan kesenian lokal warga Kabupaten Pelalawan yang disebut “Nyanyi Panjang”. Supartono menjelaskan, nyanyi panjang sudah ditetapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI sebagai warisan budaya tak berwujud.

Ia menjelaskan, nyanyi panjang merupakan tembang warga lokal yang berisikan pesan tentang alam. Diperkirakan ada 25 judul lagu yang berbeda, namun hanya segelintir yang menguasainya.

“Yang bisa tinggal tiga orang dan mereka sudah tua,” katanya.

Festival Tesso Nilo

 

Kegiatan lainnya adalah lomba Silat Pangean. Silat tradisional ini dalam penampilannya nanti akan mengikuti tradisi asli setempat. “Proses pembuatan gelanggangnya panjang, banyak ritualnya,” ujar Supartono.

Kemudian ada juga lomba memasak masakan tradisonal dan “menumbai”. Lomba ini bertujuan untuk mempopulerkan kembali budaya masyarakat disekitar hutan yang menggunakan minyak seminai dan suntai untuk memasak, bukan dengan minyak goreng dari kelapa sawit maupun kelapa.

“Menumbai merupakan tradisi warga lokal memanen madu hutan dari pohon sialang pada malam hari,” ujarnya.

Selain itu, ada juga lomba mewarnai untuk anak-anak TK, dan lomba fotografi untuk wartawan dan masyarakat umum. Supartono mengatakan festival tersebut juga untuk mempromosikan paket ekowisata alam TNTN. Sebagai kawasan konservasi, Balai TNTN juga mulai memanfaatkannya untuk pariwisata. Karena itu, peserta bisa memilih kegiatan seperti mengikuti aktivitas pawang (mahout) gajah Sumatera, menelusuri pesona hutan alam, wisata menelusuri sungai, dan trek sepeda lintas alam.

“Kalau pemerintah daerah mendukung, maka kami akan mendorong Festival TNTN ini menjadi agenda wisata nasional,” katanya.

Menuju TNTN hanya bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan lama perjalanan sekitar 3-4 jam dari Kota Pekanbaru. Taman nasional ini diresmikan pada 19 Juli 2004 dan mempunyai luas sebesar 38.576 hektare (Ha), mayoritas wilayahnya di Kabupaten Pelalawan dan sebagian kecil di Indragiri Hulu.

Pada 19 Oktober 2009, taman nasional tersebut diperluas menjadi 83.068 Ha. Blok hutan ini merupakan habitat gajah dan harimau Sumatera. Dua dari sembilan kantong yang tersisa di Riau yang masih tersisia di Riau berada di Tesso Nilo yaitu pada Taman Nasional Tesso Nilo dan kawasan sekitarnya.

“Awalnya, tujuan utama taman nasional ini untuk konservasi gajah. Ada tujuh ekor gajah jinak, sedangkan gajah yang liar diperkirakan ada sekitar 120 ekor,” kata Supartono. ***

Rabu, TNTN Gelar Festival dan Kemah KSDAE

Bila tak ada aral melintang, Rabu besok (22/11/2017), Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) akan menggelar Festival Tesso Nilo yang akan dilaksanakan selama 3 hari. Kegiatan yang digelar di TNTN itu direncanakan akan dibuka langsung oleh Bupati Pelalawan, HM Harris, tanggal 22 malam.

Hal ini disampaikan oleh Kepala TNTN, Supartono, S.Hut MP, saat berbincang dengan sejumlah media, Sabtu (18/11/2017). Menurutnya, dalam gelaran festival TNTN itu akan dilaksanakan juga berbagai lomba guna memeriahkan acara tersebut. Diantaranya, Nyanyi Panjang, Silat, Menumbai, Mewarnai dan Photografi Jurnalistik.

Supartono menjelaskan bahwa di tanggal yang sama itu juga akan diadakan kemah bagi para Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Taman Nasional seluruh Indonesia yang akan dihadiri oleh Dirjen KSDAE dan para Direktur lingkup Dirjen KSDAE.

“Untuk rencana Festival Tesso Nilo dan Kemah Konservasi sudah kita rapatkan dengan Dinas terkait, camat, perangkat desa dan masyarakat,” ujar Supartono.

Festival Tesso Nilo

Ditanya soal pengembangan kawasan TNTN sendiri, Supartono menerangkan bahwa saat ini Balai TN Tesso Nilo sedang membangun tata kelola wisata dengan berbasis masyarakat. Dan kini, penyusunan Grand Desain Wisata TN Tesso Nilo hampir final.

Untuk hal tersebut, pihaknya melibatkan masyarakat setempat, yakni Desa Lubuk Kembang Bungo, Air Hitam dan Desa Bagan Limau yang terletak di sekitar kawasan sudah dimulai dari tahap perencanaan. Masyarakat desa kini mulai menyiapkan (Home Stay) paling tidak sudah ada 3 (tiga) ‘home stay’ yang sudah dibina.

“Kemudian, kita juga kini sudah ada paket wisata dan fasilitas penunjang yang mulai dibangun yaitu Mahout Wanna Bee, yakni paket wisata pengamatan perilaku gajah dan hidup bersama gajah, menumbai panen madu sialang, susur sungai nilo, tracking, bersepada, dan lain-lain,” ujarnya.

Tak hanya itu, sambungnya, pihaknya juga telah mempersiapkan program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi masyarakat, kemudian juga sudah mengirimkan masyarakat untuk Pelatihan Guide (pemandu) Wisata di Yogyakarta dan mengadakan Studi Banding ke Taman Nasional Meru Betiri.

“Kegiatan Festival Tesso Nilo yang akan kita laksanakan dengan mengambil tema ‘Lestarikan Budaya Lestarikan Alam’ ini merupakan salah satu event dalam mempromosikan potensi-potensi yang ada di kawasan TNTN,” tukasnya.

Pencarian Terkait

Tags: #Desa Lubuk Kembang Bunga #Explore Indonesia #Explore Pelalawan #Festival #Kabupaten Pelalawan #Kecamatan Ukui #National Park #Taman Nasional #Taman Nasional Tesso Nilo

author
Penulis: 
Blogger Riau adalah Media Informasi Tips & Trik Seputar Dunia Blogging, Berita Pilihan, dan lain-lain.
Festival Tesso Nilo 2017
Festival Tesso Nilo 2017
Explore Riau, Pelalawan – Festival Tesso Nilo
RTH Pematang Reba
RTH Pematang Reba
Explore Riau, Indragiri Hulu – Maraknya pengadaan Ruang
Kolam Loyang, Kolamnya Bidadari
Explore Riau, Indragiri Hulu – Indragiri Hulu
Goa Anak Talang
Goa Anak Talang
Explore Riau, Indragiri Hulu – Siapa sangka

Tinggalkan Balasan

Baca Juga×

Top