Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / Indragiri Hulu / Rengat Berdarah

Rengat Berdarah

/
/
/
1043 Views

Indragiri Hulu, ExploreRiau.id – Rengat Berdarah. Rengat, 5 Januari 1949 merupakan hari berkabung bagi warga Kota Rengat. Sungai Indragiri memerah, menjadi saksi bisu keganasan tentara Belanda membunuh ribuan nyawa tak berdosa saat melancarkan Agresi Militer ke-2 di tanah Indragiri. Berikut ini 2 artikel yang mungkin dapat membantu anda mengenal sejarah tragedinya Rengat Berdarah:

Mengenang peristiwa 5 Januari 1949, Rengat Banjir Darah

Hari itu Rabu, 5 Januari 1949, pagi baru saja menjelang, sekitar pukul 06.00 Wib, dua pesawat Belanda jenis Mustang dengan cocor merah di depannya terbang rendah di langit Kota Rengat yang baru diguyur hujan malam harinya.

Dua pesawat itu melayang-layang diantara kerumunan masyarakat yang akan memulai aktivitas. Sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa tentara Belanda akan menyerang Kota Rengat sebagai upaya merebut kembali kekuasannya.

Kecemasan warga segera terjawab. Kedatangan dua pesawat Belanda itu bukan hendak mengantarkan berita baik, melainkan membawa bom yang ditembakkan begitu saja di pasar, jalan raya, rumah warga hingga markas tentara Indonesia. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.

Dalam hitungan detik, tubuh-tubuh manusia bergelimpangan, sementara darah bercecer dimana-mana. Sejumlah tentara berupaya melumpuhkan dua pesawat dengan menembakkan mortir. Namun upaya itu tidak terlalu membuahkan hasil. Justri markas tentara Indonesia yang di bombardir oleh Belanda.

Aksi dua pesawat Mustang yang mengebom setiap penjuru Rengat baru berakhir pukul 09.45 Wib. Begitu Pesawat Mustang menghilang dari langit Rengat, muncul kembali tujuh pesawat Dakota yang menerjunkan ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST), pasukan terlatih Belanda yang telah mengikuti pelatihan di Batu Jajar, Bandung. Konon pasukan ini dilatih langsung oleh Kapten Westerling yang terkenal keji dan kejam. Pasukan ini diterjunkan di daerah Sekip yang berawa-rawa dan selama ini tidak begitu terjaga oleh tentara republik.

“Perhatian kita benar-benar terpecah. Antara menghadang laju pasukan penerjun dengan korban yang bergelimpangan. Seorang ibu memeluk tubuh anaknya yang tercabik-cabik. Ada juga wanita yang berteriak histeris didepan putrinya yang terluka parah. Entah siapa yang mau ditolong terlebih dahulu. Masuk ke lubang perlindungan disana sudah ada mayat-mayat dan korban yang terluka parah. Terlintas dalam pikiran saya jika serangan itu terus dilanjutkan, maka menjelang petang mungkin seluruh penduduk Rengat sudah musnah,” ujar HM Wasmad Rads, mantan Komandan Markas Bataliyon III, Resimen IV, Banteng Sumatera berpangkat Letnan Muda TNI AD yang dituturkan dalam sebuah biografi bertajuk Lagu Sunyi Dari Indragiri.

Warga Rengat yang sudah panik dan kacau balau karena serangan udara, tiba-tiba sudah berhadapan dengan pasukan terlatih dan bersenjata lengkap. Serangan pasukan Belanda tersebut teramat cepat. Akibatnya banyak warga dan tentara yang tewas, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pasukan Belanda sudah berhasil mendekat ke Batalyon dan mengusai Rengat.

“Belanda menembak apapun yang bergerak. Sisa-sisa prajurit dan warga yang bersembunyi dalam gorong-gorong di berondong. Korban jatuh dari berbagai kalangan termasuk Bupati Tulus, Wedana Abdul Wahab, Kepala Polisi Korengkeng. Ada yang memperkirakan korban yang tewas mencapai dua hingga tiga ribu orang hari itu,” tutur Wasmad.

Tidak cukup sampai disitu, Belanda juga menangkap pegawai pemerintahan dan sisa-sisa laskar. Mereka kemudian dibariskan menuju lapangan, disuruh baris berjajar dan ditembak tanpa proses interogasi. Belanda juga membentak warga yang masih hidup dan meminta mereka mengumpulkan seluruh mayat untuk ditumpuk begitu saja di tepian Sungai Indragiri. Jasad para korban yang jumlahnya ribuan itu lantas dilemparkan ke sungai yang tengah mengalir deras.

Dalam situasi serba tak menentu, Wasmad bersama Letnan Satu Himron Suherman dan Letnan Muda Thamsur Poad begerak ke pinggir hutan sambil berupaya mencari sisa-sisa tentara. Namun yang selamat ternyata hanya mereka bertiga. Ketiganya kemudian sepakat berpencar karena kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk menghimpun kekuatan dalam waktu singkat. Namun Wasmad tetap nekat untuk bertahan didalam kota mencari informasi pasukan yang masih tersisa guna menghadapi Belanda.

Menjelang petang, situasi di Kota Rengat terus memburuk. Belanda kembali menurunkan pasukan Baret Hijau dalam jumlah besar. Mereka diperkirakan tiga kompi atau sekitar 350 orang. Pasukan ini datang dari Tembilahan melalui jalur sungai.

Wasmad berupaya menyelamatkan diri dengan cara bergerilya. Dalam perjalanan menyusuri sungai dan hutan ia bertemu dengan para pejuang lainnya. Namun pada tanggal 11 Januari 1949, Wasmad berhasil ditangkap pasukan Belanda di rumah orangtua angkatnya di daerah Sekip. Ia ditangkap seregu tentara KNIL dibawah Komando Tomasoa.

Wasmad kemudian digelandang ke dalam sel. Dalam tahanan, Wasmad bertemu dengan sejumlah tentara republik yang telah lebih dulu ditangkap. “Penjara adalah mimpi buruk. Kami mendapatkan beragam siksaan. Banyak yang tewas dalam siksaan itu. Seingat saya yang tewas adalah Sersan CPM Tamrun. Sedangkan Sersan CPM Ponco sempat lari dari penjara, tetapi ia berhasil di tembak mati Belanda di hutan daerah Sekip,” ucapnya.

Wasmad tidak menyangka bisa bebas dengan selamat dari penjara Belanda. Pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda membebaskan seluruh tahanan perang seiring dengan penyerahan kedaulatan Belanda kepada Pemerintah Indonesia. Wasmad dan rekan-rekannya yang ditahan di bawa ke Taluk Kuantan untuk ditukar dengan tentara Belanda yang menjadi tahanan tentara republik. Keesokan harinya, Wasmad kembali ke Rengat. Ia kemudian bekerja di Kantor Bupati Indragiri pada Bagian Umum Penerangan. Saat itu, Bupatinya Umar Usman. *Rahmadi.

Rengat Berdarah

Kisah Rengat “Berdarah”

RENGAT – Dua kapal perang milik Belanda yang datang dari arah Tembilahan tiba-tiba mendarat di Sungai Indragiri, Rabu, 5 Januari 1949, sekitar pukul 08.00 Wib. Dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah, ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST) dibawah komando Kapten Skendel keluar dan membakar Markas Kodim, Markas Polisi, stasiun radio, sentral telepon, gudang pelabuhan hingga Rumah Sakit.

Kedatangan dua kapal perang Gajah Merah tersebut setelah sebelumnya pesawat Belanda membombardir Kota Rengat dan menerjunkan pasukan payung. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.

Dengan senjata otomatis dan modern, pasukan Belanda semakin ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, tentara perjuangan rakyat serta masyarakat sipil yang tidak berdosa. Tentara Belanda menembaki anak-anak, ibu hamil dan orangtua. Tidak puas sampai di situ, tentara Belanda kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian dibariskan di pinggir Sungai Indragiri dan setelah itu terjadilah pembantaian massal. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah.

Bupati Indragiri Tulus yang mendapatkan laporan tentang penyerbuan tentara Belanda memilih tetap bertahan di Kota Rengat. Namun ia kemudian ditembak oleh tentara Belanda didepan istri dan anak-anaknya. Jasadnya dibuang di Sungai Indragiri bersama jasad ajudannya Tandean yang turut ditembak tentara Belanda.

Itulah sepenggal visualisasi kilas balik peristiwa 5 Januari 1949 yang ditampilkan sekitar 250 orang pemain dari berbagai latar belakang pada peringatan peristiwa bersejarah di Kota Rengat, Senin (5/1). Visualisasi ini terasa lebih nyata dan menyentuh karena langsung menggunakan peralatan perang seperti senjata milik TNI, tagboad yang sudah didesain menyerupai kapal Belanda serta dentuman bunyi bom dan meriam yang memekakkan telinga.

Bahkan saking terharu dan sedihnya menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut, Bupati Inhu H Yopi Arianto, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto serta pelaku sejarah Imron Suherman serta saksi sejarah Dwi Yana yang merupakan cucu dari Bupati Tulus meneteskan airmata.

Bupati H Yopi Arianto beberapa kali terlihat menghapus airmatanya dengan menggunakan tisu. Hal itu juga dilakukan Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto hingga matanya sembab. Bahkan cucu Bupati Tulus, Dwi Yana tertunduk sembari terisak ketika melihat adegan kakeknya dibunuh dengan kejam oleh Belanda dan jasadnya dibuang ke Sungai Indragiri.

Sebelum penampilan visualisasi tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara peringatan peristiwa 5 Januari 1949 tepat di depan tugu agresi. Usai pagelaran visualisasi tersebut dilakukan tabur bunga di Sungai Indragiri oleh Bupati Inhu Yopi Arianto, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto, Wakil Bupati Inhu Harman Harmaini, Ketua DPRD Inhu Miswanto, Sekda Inhu Raja Erisman serta pelaku dan saksi sejarah.

Bupati Inhu H Yopi Arianto mengakui ia menangis ketika menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut. Ia merasakan bagaimana situasi yang terjadi pada saat itu hingga ribuan masyarakat menjadi korban kekejaman Belanda.

“Ini merupakan yang pertama kalinya kita tampilkan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949. Saya punya cita-cita, mudah-mudahan tahun depan, kita bisa tampilkan juga visualisasi terjun payung pasukan Belanda dengan menggunakan pesawat Hercules,” ucapnya.

Bupati juga menyampaikan permohonan maaf jika dalam visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 ada yang tidak sesuai dan ia berharap peristiwa bersejarah tersebut bisa menjadi pelajaran bersama untuk generasi muda mengisi pembangunan.

Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto mengungkapkan bahwa dari visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut tergambar begitu banyak pejuang yang gugur. Karena itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya.“Luar biasa visualisasi yang ditampilkan, saya terharu dan sampai sekarang mata saya masih sembab,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang pelaku sejarah peristiwa 5 Januari 1949, Imron Suherman mengungkapkan bahwa visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 kembali membuka ingatannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa bagaimana rakyat dibantai dan dibunuh oleh tentara Belanda.

“Kita doakan semoga arwah para pejuang diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Saya berpesan kepada generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan positif,” pesannya. *MC Riau/ana.

Rengat Berdarah
5 (100%) 1 vote
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Tinggalkan Balasan