Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
img
Home / Explore / Explore Kabupaten Pelalawan

Explore Kabupaten Pelalawan

/
/
/
1154 Views

Pelalawan, exploreriau.id – Explore Kabupaten Pelalawan. Pelalawan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kota Pangkalan Kerinci. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kampar.

SEJARAH

I. Sejarah Kerajaan Pelalawan

Wilayah kerajaan pelalawan yang sekarang menjadi kabupaten pelalawan, berawal dari kerajaan Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera (sekitar tahun 1380 M). Beliau adalah bekas orang besar kerajaan Temasik (singapura) setelah kerajaan Temasik dikalahkan oleh Majapahit dipenghujung abad XIV. Sedangkan raja Temasik terakhir yang bernama Permaisura (prameswara) mengundurkan dirinya ke tanah semenanjung, dan mendirikan kerajaan Malaka. Maharaja Indera (1380-1420) membangun kerajaan Pekantua di Sungai Pekantua (anak sungai Kampar, sekarang termasuk desa Tolam, Kecamatan Pelalawan, kabupaten Pelalawan ) pada tempat bernama Pematang Tuo dan kerajaan nya dinamakan Pekantua. Setelah Maharaja Indera, kerajaan Pekantua dipimpin oleh Maharaja Pura (91420-1445 M) dan Maharaja Jaya (1480-1505 M). Kerajaan Malaka pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah PP(1459-1477 M) menyerang kerajaan Pekantua, dan kerajaan Pekantua dapat dikalahkan. Selanjutnya Sultan Mansyur Syah (1505-1511 M) sebagai raja Pekantua. Pada upacara penabalan, diumumkan bahwa Kerajaan Pekantua berubah nama menjadi Kerajaan Pekantua Kampar.

Setelah Munawar Syah Mangkat, diangkatlah Putranya Raja Abdullah, Menjadi Raja Pekantua Kampar (1511-1515 M). Di Malaka, Sultan Mansyur Mangkat, di gantikan oleh Sultan Mahmud Syah I. Pada masa inilah Kerajaan Malaka diserang dan dikalahkan oleh Portugis (1511 M). Sultan Mahmud Syah I mengundurkan dirinya sekitar tahun 1526 M sampai ke Pekantua Kampar. Raja Abdullah (1511-1515 M), yang turut membantu melawan Portugis akhirnya tertangkap dan dibuang ke Goa. Oleh karena itulah, Ketika Sultan Mahmud Syah I sampai di Pekantua (1526 M) langsung dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar (1526-1528 M) dan ketika beliau mangkat diberi gelar Marhum Kampar yang makamnya terletak di Pekantua Kampar.

Sultan Mahmud Syah I mangkat digantikan oleh putranya dari istrinya Tun Fatimah, yang bernama Raja Ali, bergelar Sultan Alauddin Riayat Syah II. Tak lama kemudian, beliau meninggalkan Pekantua ke Tanah Semananjung mendirikan Negeri Kuala Johor, beliau dianggap pendiri Kerajaan Johor. Sebelum meninggalkan Pekantua, beliau menunjuk dan mengangkat Mangkubumi Pekantua (1530-1551 M) yang bernama Tun Perkasa dengan Gelar Raja muda Tun Perkasa. Selanjutnya kerajaan Pekantua Kampar diperintah oleh Tun Hitam (1551-1575 M), lalu Tun Megat (1575-1590 M).

Ketika kerajaan Johor dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil Syah (cucu Sultan Alauddin Riayat Syah II, Raja Pekantua Kampar), Tun Megat dikerajaan Pekantua Kampar untuk menjadi raja. Sultan Abdul Jalil Syah mengabulkan permintaan Tun Megat, lalu mengirimkan salah seorang keluarga dekatnya yang bernama Raja Abdurrahman untuk menjadi Raja Pekantua Kampar. Sekitar tahun 1590 M, Raja Abdurrahman dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar dengan gelar Maharaja Dinda (1590-1630 M). Selanjutnya, beliau memindahkan pusat kerajaan Pekantua Kampar dari Pekantua (Pematang Tuo) ke Bandar Tolam (Sekarang menjadi Desa Tolam, kecamatan Pelalawan).

Ketika Maharaja Wangsa Jaya (1686-1691 M) mangkat digantikan oleh Putranya Maharaja Muda Lela (1691-1720 M), yang kemudian digantikan oleh putranya Maharaja Dinda II (1720-1750 M). Pada masa Maharaja Dinda II sekitar tahun 1725 M terjadi pemindahan pusat Kerajaan Pekantua Kampar ke Sungai Rasau, salah satu anak sungai Kampar, dan nama kerajaan Pekantua Kampar diganti menjadi kerajaan PELALAWAN. Didalam upacara itu, gelar beliau yang semula Maharaja Dinda II disempurnakan menjadi Maharaja Dinda Perkasa atau disebut Maharaja Lela Dipati. Setelah beliau mangkat, digantikan oleh puteranya Maharaja Lela Bungsu (1750-1775 M), yang berhasil membuat kerajaan Pelalawan semakin berkembang pesat karena membuat hubungan dagang dengan daerah sekitarnya.

Ramainya Perdagangan dikawasan ini antara lain disebabkan oleh terjadinya kemelut di Johor. Setelah Sultan Mahmud Syah II di Kerajaan Johor mangkat, arus perdagangan beralih je kawasan Pesisir Sumatera bagian timur. Sultan Mahmud Syah II mangkat di bunuh oleh Laksemana Megat Srirama yanh tidak berputera, maka penggantinya diangkat Bendahra Tun Habib menjadi Raja Johor yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Tak lama datang Raja Kecil yang menuntut Tahta Johor, karena beliau mengaku sebagai Putra Sultan Mahmud Syah II dengan istrinya yang bernama Encik Pong. Mengenai Raja Kecil ini terdapat berbagai versi, ada yang mengakuinya sebagai putra Sultan Mahmud Syah II dan ada yang menolaknya. Tetapi para pencatat sejarah dan silsilah di Kerajaan Siak dan Pelalawan tetap mengakuinya bahwa beliau adalah putra Sultan Mahmud Syah II. Raja Kecil menduduki tahta Johor bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. Tetapi kemudian terjadi pertikaian dengan iparnya, Raja Sulaiman, putra Sultan dan bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1722-1760 M). Sedangkan Raja Kecil yang menduduki tahta Johor sebelumnya (1717-1722 M) mengundurkan dirinya ke Siak, kemudian membuat Negeri di Buatan. Inilah awal berdirinya kerajaan Siak Sri Indrapura, Raja Kecil memerintah Siak tahun (17722-1746 M).

Kerajaan Pelalawan yang telah melepaskan diri dari ikatan Kerajaan Johor, diserang oleh Kerajaan Siak pada masa Sultan Syarif Ali (1784-1811 M). Serangan yang dipimpin oleh Said Abdurrahman, adik Sultan Syarif Ali dapat menaklukkan kerajaan Pelalawan. Sultan Said Abdurrahman melakukan ikatan persaudaraan yang disebut Begito (pengakuan bersaudara dunia akhirat) dengan Maharaja Lela II, Raja Pelalawan pada saat itu. Said Abdurrahman kemudian dinobatkan menjadi Raja Pelalawan dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Fakhruddin (1798-1822 M). Sejak itu kerajaan Pelalawan diperintah oleh raja-raja keturunan Said Abdurrahman, saudara dari Syarif Ali Sultan Siak, sampai kepada Raja Pelalawan terakhir.

  1. Syarif Abdurrahman (1798-1822 M)
  2. Syarif Hasyim (1822-1828 M)
  3. Syarif Ismail (1828-1844 M)
  4. Syarif Ismail (1844-1866 M)
  5. Syarif Jaafar (1866-1872 M)
  6. Syarif Abubakar (1872-1886 M)
  7. Tengku Sontol Said Ali (1886-1892 M)
  8. Syarif Hasyim II (1892-1930 M)
  9. Tengku Said Osman (Pemangku Sultan) (1930-1941 M)
  10. Syarif Harun (1941-1946 M).

Pada saat kemerdekaan Republik Indonesia, Tengku Said Harun bersama orang besar Kerajaan Pelalawan menyampaikan pernyataan Taat Setia dan Bersatu dalam Negara Republik Indonesia yaitu pada tanggal 20 Oktober 1945. setelah mangkat, atas jasa-jasanya Beliau diberi gelar Marhum Setia Negara.

II. Pelalawan Sebagai Kabupaten

Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu kabupaten yang dimekarkan (sebelumnya merupakan bagian dari kabupaten Kampar) di wilayah Propinsi Riau. Kabupaten Pelalawan dimekarkan pada tanggal 12 Oktober 1999 yang disahkan melalui Undang-undang No. 53 tahun 1999. Ibu kota Kabupaten Pelalawan adalah Pangkalan Kerinci yang terletak di bagian timur Riau Daratan dengan luas 12.490 42 km2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
– Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Karimun, Kepuluan Riau dan Selat Malaka
– Sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru
– Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir.

Untuk mencapai kota Pangkalan Kerincidapat ditempuh melalui beberapa pintu masuk :

a. Darat :
– Melalui Kota Pekanbaru dengan melewati jalan raya Lintas Timur.
– Melalui Kota Jambi/Rengat (Kabupaten Inhu) dengan melewati jalan Raya Lintas Timur.

b. Laut/ Sungai :
– Melalui Penyalai di Kuala Kampar
– Melalui Tolam, di Kecamatan Pelalawan
– Melalui Teratak Buluh di Kabupaten Kampar.

c. Udara :
– Melalui Bandar Udara Sultan Syarief Haroen di Komplek PT. RAPP (Riau Pulp and Paper).

Kabupaten Pelalawan telah berkembang menjadi 12 Kecamatan terdiri dari 4 Kecamatan Definitif dan 8 Kecamatan Pembantu, diantaranya :

Kecamatan Definitif :

  1. Kecamatan Langgam Luas, 916,61 km2
  2. Kecamatan Bunut Luas, 1.339,96 km2
  3. Kecamatan Pangkalan Kuras Luas, 2.158,68 km2
  4. Kecamatan Kuala Kampar Luas, 4.656,34 km2.

Kecamatan Pembantu :

  1. Kecamatan Pangkalan Kerinci Luas, 616,40 km2
  2. Kecamatan Ukui Luas, 407,73 km2
  3. Kecamatan Pelalawan Luas, 930,63 km2
  4. Kecamatan Pangkalan Lengsung Luas, 472,73 km2
  5. Kecamatan Kerumutan Luas, 773,86 km2
  6. Kecamatan Teluk Meranti Luas, 217,49km2
  7. Kecamatan Bandar Petalangan Luas, 365,26km2
  8. Kecamatan Bandang sekijang Luas, 98,90 km2.

Posisi yang srategis di jalur Lintas timur Sumatera serta berbatasan dengan Propinsi Kepulauan Riau dan Negara Tetangga merupakan keunggulan bagi Kabupaten Pelalawan untuk mengembangkan pembangunan di segala sector, dalam mengejar ketinggalan yang selama ini menyelimutinya.

Aktivitas pemanfaatan kekayaan dan keragaman hasil hutan juga terlihat dengan berdirinya pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara oleh PT Riau Pulp and paper (anak perushaan Asia pacific resaurces International Holding Limeted) di pangkalan kerinci. Adanya pabrik ini mampu menghasilkan partisipasi terbesar dalam produk Regional Bruto di Kabupaten Pelalawan.

Penduduk asli Kabupaten Pelalawan terdiri dari orang Melayu yang terbagi dalam dua wilayah adat, Yaitu masyarakat Melayu pesisir dan Melayu Petalangan.

Kabupaten ini dialiri sungai Kampar dengan anak sungainya sehingga memberi karakteristik tersendiri terhadap kehidupan penduduknya, dimana sebagian pendudukasli banyak bergantung kepada kekayaan alam dan keragaman sumber daya perairan serta kekayaan dan keragaman hasil hutan.

GEOGRAFI KABUPATEN PELALAWAN

logo kabupaten pelalawan

Kabupaten Pelalawan dengan luas 13.924,94 km², dibelah oleh aliran Sungai Kampar, serta pada kawasan ini menjadi pertemuan dari Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Kabupaten Pelalawan memilik beberapa pulau yang relatif besar yaitu: Pulau Mendol, Pulau Serapung dan Pulau Muda serta pulau-pulau yang tergolong kecil seperti: Pulau Tugau, Pulau Labuh, Pulau Baru Pulau Ketam, dan Pulau Untut.

Struktur wilayah merupakan daratan rendah dan bukit-bukit, dataran rendah membentang ke arah timur dengan luas wilayah mencapai 93 % dari total keseluruhan. Secara fisik sebagian wilayah ini merupakan daerah konservasi dengan karakteristik tanah pada bagian tertentu bersifat asam dan merupakan tanah organik, air tanahnya payau, kelembaban dan temperatur udara agak tinggi.

[Utara] Kabupaten Siak dan Kabupaten Kepulauan Meranti

[Selatan] Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Indragiri Hulu

[Barat] Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru

[Timur] Kabupaten Karimun dan Kabupaten Indragiri Hilir

Kabupaten Pelalawan

PEMERINTAHAN KABUPATEN PELALAWAN

Kabupaten Pelalawan merupakan pemekaran Kabupaten Kampar, yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 53 Tahun 1999. Pada awalnya terdiri atas 4 wilayah kecamatan, yakni: Langgam, Pangkalan Kuras, Bunut, dan Kuala Kampar. Kemudian setelah terbit Surat Dirjen PUOD No. 138/1775/PUOD tanggal 21 Juni 1999 tentang pembentukan 9 (sembilan) Kecamatan Pembantu di Provinsi Riau, maka Kabupaten Pelalawan dimekarkan menjadi 9 (sembilan) kecamatan, yang terdiri atas 4 kecamatan induk dan 5 kecamatan pembantu, tetapi berdasarkan SK Gubernur Provinsi Riau No. 136/TP/1443, Kabupaten Pelalawan dimekarkan kembali menjadi 10 (sepuluh) kecamatan. Namun, setelah terbitnya Peraturan Daerah Kabupaten Pelalawan Nomor 06 Tahun 2005, maka Kabupaten Pelalawan terdiri atas 12 kecamatan.

Daftar Kecamatan

  1. Kecamatan Bunut, dengan ibu kota Pangkalan Bunut = 13.742 jiwa.
  2. Kecamatan Langgam, dengan ibu kota Langgam = 26.423 jiwa.
  3. Kecamatan Pangkalan Kerinci, dengan ibu kota Pangkalan Kerinci = 90.306 jiwa.
  4. Kecamatan Pangkalan Kuras, dengan ibu kota Sorek Satu = 52.920 jiwa.
  5. Kecamatan Pangkalan Lesung, dengan ibu kota Pangkalan Lesung = 29.035 jiwa.
  6. Kecamatan Ukui, dengan ibu kota Ukui Satu = 36.849 jiwa.
  7. Kecamatan Kuala Kampar, dengan ibu kota Teluk Dalam = 17.797 jiwa.
  8. Kecamatan Kerumutan, dengan ibu kota Kerumutan = 20.350 jiwa.
  9. Kecamatan Teluk Meranti, dengan ibu kota Teluk Meranti = 14.834 jiwa.
  10. Kecamatan Pelalawan, dengan ibu kota Pelalawan = 17.798 jiwa.
  11. Kecamatan Bandar Sei Kijang, dengan ibu kota Sei Kijang = 23.006 jiwa.
  12. Kecamatan Bandar Petalangan, dengan ibu kota Rawang Empat = 13.885 jiwa.

DEMOGRAFI JUMLAH PENDUDUK

Jumlah penduduk Kabupaten Pelalawan hasil sensus yang dilakukan oleh BPS Pelalawan tahun 2012 adalah 356.945 jiwa. Mayoritas penduduk memeluk agama Islam yakni 321.714 jiwa dan lainnya beragama Protestan (6,7%), Katolik (2,48%), Hindu dan Budha.

PEREKONOMIAN KABUPATEN PELALAWAN

Sektor industri saat ini merupakan sektor utama dalam perekonomian Pelalawan. Besarnya kontribusi sektor industri mencapai 51,41% dari total PDRB tahun 2012. Selain itu, perekonomian Pelalawan juga didukung oleh sektor pertambangan. Ada dua jenis tambang yang ada di Kabupaten Pelalawan, yaitu minyak bumi dan gas bumi. Pada tahun 2012, produksi minyak bumi mencapai 572,69 ribu barrel dan gas bumi mencapai 5.716,76 ribu mscf.

Pada kabupaten ini terletak Kawasan Industri Kampar yang di dalamnya berdiri perusahaan bubur kertas dan produk kertas yaitu PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Di Daerah kabupaten Pelalawan terdapat beberapa perusahaan perkebunan besar yang dominan dimiliki oleh pengusaha-penguasa yang bukan berasal dari riau seperti sinarmas dan RGE. Disamping itu perusahaan-perusahaan perkebunan sawit di Pelalawan bukan hanya dimiliki oleh pengusaha asal indonesia saja, bahkan ada juga dari negara-negara lain seperti malaysia.

PARIWISATA KABUPATEN PELALAWAN

Kabupaten Pelalawan adalah salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Riau. Kabupaten ini memiliki luas 13.924,94 Km² dan pada awal terbentuknya terdiri atas 4 kecamatan, yaitu kecamatan: Langgam,Pangkalan Kuras, Bunut, dan Kuala Kampar. Dalam perkembangannya, Kabupaten Pelalawan secara administratif terdiri atas 12 wilayah kecamatan, yang meliputi 106 Desa dan 12 Kelurahan.

Nama Kabupaten Pelalawan berawal dari nama sebuah kerajaan Pelalawan yang pusat kerajaannya berada di pinggir sungai Kampar. Kerajaan ini berdiri tahun 1761, dan mulai terkenal pada masa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahman Fachrudin (1811-1822). Kabupaten Pelalawan memiliki banyak tempat wisata, diantaranya sebagai berikut:

  • Wisata Alam

  1. Taman Nasional Tesso Nilo
  2. Bono Sungai Kampar
  3. Sungai Kampar
  4. Danau Tajwid
  5. Hutan Rindang
  • Wisata Budaya

  1. Upacara Potang Balimau
  • Wisata Sejarah

  1. Makam Mahmud Syah dari Malaka
  2. Komplek Makam Raja-Raja Pelalawan
  3. Istana Kesultanan Pelalawan
  4. Balai Adat Pelalawan
  5. Makam Panglima Kudin.
  • Wisata Minat Khusus

  1. Tugu Selamat Datang Kota Pangkalan Kerinci
  2. Pemandangan Kota Pangkalan Kerinci.

Memperbarui:
Artikel ini terakhir diperbaharui pada: Selasa, 4 November 2017.
Jika kami memperbarui, mengubah atau membuat perubahan pada artikel kami, perubahan tersebut akan diposkan di sini.

Explore Kabupaten Pelalawan
5 (100%) 1 vote
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

2 Comments

Tinggalkan Balasan